SENI BUDAYA ( SENI RUPA )

Kayu merupakan material tang dapat dijumpai di sekitar kita. Kayu tidak hanya sebagai bahan bangunan dan juga sebagai kayu bakar tetapi dapat dijadikan seni. Setiap daerah di indonesia memiliki sentra bahan kayu. Untuk membuat karya dari bahan kayu dapat menggunakan berbagai macam teknik. Ada dengan cara ukir, dilukis, dan dibubut. Setiap teknik yang digunakan akan menghasilkan karya seni yang berbeda beda. Dengan teknik ukir menghasilkan bahan kayu yang memiliki tekstur jelas, sedangkan dengan cara dilukis menghasilkan tekstur halus.

MENGENAL TOKOH SENI RUPA
WIDAYATI merupakan salah satu tokoh seni rupa Indonesia yang lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, 1919. Karirnya sebagai pelukis termurah di Bandung dengan melukis pemandangan alam bercorak "mooi indie" untuk para pelancong. Seperti kebanyakan Pemuda, ketika masa pergerakan kemerdekaan, ia ikut dalam barisan kaum pergerakan. Keahlihan melukisnya tersalurkan salam pembuatan poster poster propaganda Indonesia yang baru didirikan di Yogyakarta. Ia lulus pada tahun 1954, lalu ia megajar di akademi tersebut sampai masa pensiun di tahun 1988. Ia pernah berkesempatan mrngunjungi jepang untuk mempelajari panataan taman dan pembuatan keramik selama dua tahun, 1960-1962.
Karya widayat adalah contoh pencapaian paripurna corak dikoratif dalam seni rupa modern Indonesia. Ia mengolah kekuatan penataan ragam hias yang sungguh teliti seperti yang terlihat dalam tradisi hiasan batik dan seni ukir tradisional dan memadukanya dengan kosep komposisi dan citarasa warna modern. Karena, karya karyanya pernah dijuluki sebagai luisan bercorak“ dekoratif magis”
Dalamd perjalanan karirnya sebagai pelukis, ia banyak menghasilkan karya dengan berbagai media dan teknik seni seperti dan memperoleh sejumlah penghargaan: ANUGERAH SENI dari Pemerintah RI, 1972; Hadiah Utamabsalam Biennale Seni Lukis Indonesia I, 1974; penghargaan Biennale Yogyakarta, 1986; Lempad Prize dari Sanggar Dewata Indonesia,1987; ASEAN Art Award, 1993, dan penghargaan Budaya Upa Pradana dari Pemda Jateng, 1994.

Komentar